Senin, 02 April 2012

Kesenian Rebana di Dusun Kampung Rapet

Definisi Rebana dalam Wikipedia adalah  gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh. Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama. Di Indonesia, alat musik rebana berkembang menjadi banyak jenis. Biasanya merupakan ciri khas dari kultur budaya daerah tertentu. Jenis alat rebana yang paling umum diantaranya, Rebana Banjar, Rebana Biang, Jidor, Kompang, Marawis, Samroh, Hadroh dan lainnya.
Komunitas musik rebana ini lahir beberapa tahun yang lalu, dipelopori oleh Bapak Yusuf Sholeh selaku pembimbing Remis Kampung Rapet. Alasan yang mendasari beliau adalah ingin menghidupkan kembali dan melestarikan kesenian rebana untuk para remaja yang dulu pernah mendapat hati di lingkungan masyarakat Kampung Rapet sehingga tidak terkikis dan hilang oleh perkembangan zaman, pada masa yang lalu kesenian musik rebana ini banyak dimainkan oleh para orang dewasa untuk mengiringi suatu kegiatan keagamaan. Oleh Karena itu, untuk alat musik yang dibutuhkan, masih dapat memakai peralatan musik yang dulu digunakan para orang tua untuk bermain rebana. Tentunya dengan sedikit perbaikan dan penambahan alat musik yang baru untuk dapat lebih menambah variasi suara yang ingin dihasilkan. Ide tersebut mendapat ternyata respon positif dari para remaja yang tergabung dalam organisasi Remis Kampung Rapet, karena mereka dapat menyalurkan bakat dan minat mereka khususnya dalam bidang musik saat mereka bergabung dalam komunitas ini dan secara tidak langsung dapat belajar agama Islam lebih mendalam karena dalam kegiatan bermusiknya sering membawakan lagu-lagu religi.
Setelah melakukan kegiatan pembahasan yang dilakukan oleh jajaran pengurus Remis dan Pembimbing, maka di sepakati bahwa komunitas rebana ini termasuk dalam salah satu cabang kegiatannya. Dan selanjutnya dipilih pengurus dari komunitas rebana tersebut, sehingga diharapkan mampu berkembang dengan baik. Dan orang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin komunitas ini adalah sorang pemuda yang memiliki nama Yuli Cahyadi yang merupakan salah satu personil orkes dangdut yang sering melakukan pertunjukan di daerah Ambarawa dan sekitarnya dan dibantu oleh rekannya yang mempunyai pengalaman dalam belajar bermain musik rebana, yaitu Indrayana. Kedua orang inilah dianggap paling berpengalaman dalam bermain musik dalam organisasi Remis tersebut, sehingga mereka dipilih dan diharapkan untuk dapat membimbing para anggota lain yang ingin ikut bergabung dalam komunitas rebana ini. Kendala yang muncul pertama kali dalam komunitas rebana ini adalah peralatan musiknya yang masih kurang lengkap dan banyak alat musik yang sudah ada kurang memadai Karena kurangnya perawatan sehingga perlu perbaikan untuk memulihkan kualitas suara yang dihasilkan. Untuk usaha menambah peralatan yang masih kurang, komunitas ini juga telah membuat proposal bantuan kepada para calon gubernur, karena pada saat itu sedang dilaksanakan pelaksanaan pilkada untuk wilayah Kabupaten Semarang, tentunya melalui izin dari para pembimbing Remis dan perangkat desa yang bersangkutan.  
Pada awal kegiatannya, komunitas ini tergabung dalam setiap acara pertemuan mingguan Remis Kampung Rapet. Jadi untuk jadwal latihannya masih bergiliran dengan acara-acara lain yang telah dilaksanakan dan disepakati bersama, atau dapat juga digunakan apabila salah satu acara tersebut dapat diberikan aransemen dari musik rebana. Namun, dalam perkembangannya hal itu tidak efektif untuk dilakukan sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan tempat yang kurang memadai apabila harus ditambah dengan alat-alat rebana yang cukup banyak, sehingga akan mengganggu jalannya kegiatan Remis yang lain. Ditambah lagi dengan waktu latihan yang terbatas karena biasanya kegiatannya dilakukan pada malam hari, sehingga di khawatirkan akan mengganggu waktu istirahat dari warga sekitar. Sehingga para anggota komunitas rebana ini kurang maksimal dalam proses mengembangkan bakatnya dalam bermusik, khususnya musik rebana. Dengan pertimbangan tersebut, maka disepakati jadwal latihan komunitas Rebana Remis menjadi berubah pada setiap minggu sore, sehingga para anggotanya dapat mempunyai banyak waktu untuk berlatih dan bertempat di rumah Bapak Yusuf Sholeh yang mempunyai ruang yang cukup luas, sehingga para anggota Rebana Remis dapat merasa nyaman dalam melakukan latihan. Dalam pemilihan anggota, Komunitas ini dipilih langsung oleh para pengurusnya, tentunya dengan pertimbangan dari ketua dan wakilnya. Karena tidak semua anggota Remis dapat bergabung dalam komunitas ini. Khusus untuk para perempuan mereka biasanya mendapat tugas sebagai pengisi vokal, baik yang inti maupun sekedar pengiring. Sedangkan para laki-laki mendapat tugas untuk memainkan peralatan rebana yang sudah tersedia. Dalam perkembangannya, komunitas ini tidak hanya memainkan lagu-lagu religi yang sudah ada sejak dulu, tetapi juga menambahnya dengan lagu-lagu religi yang terbaru dan ditambah dengan aransemen yang sangat bervariasi, sehingga membuat sussana latihan menjadi lebih menarik. Tidak hanya itu, mereka juga sesekali memainkan musik dangdut untuk sekedar hiburan menghilangkan rasa bosan karena hanya memainkan lagu-lagu religi.
Ide-ide baru yang selalu ditampilkan membuat suasana menjadi lebih hidup ditambah dengan gelak tawa para pemuda yang tergabung dalam komunitas ini. Seakan-akan mereka dapat melepas sebentar rutinitas mereka sebagai pelajar dan saling bercengkrama di setiap akhir pekan. Banyak hasil kreasi yang telah mereka buat dengan menggabungkan musik rebana dengan musik dangdut dan pop, oleh karena itu kesan kuno yang melekat pada kesenian ini kian tersamarkan. Dan dalam perkembangannya instrument musik yang digunakan juga lebih bervariasi dengan menambah beberapa alat musik baru yang dapat memperkaya keunikan dari musik rebana itu sendiri.Berangkat dengan kecintaannya dengan musik dan dalam masa mencari pelampisan untuk bermain musik, sehingga para remaja ini sangat antusias dalam mengikuti salah satu kegiatan positif untuk menyalurkan hobi mereka untuk bermain musik. Hal ini yang menjadi alasan para anggotanya untuk dapat menjaga eksistensinya dalam masyarakat. Dari antusiasme itulah timbul semangat pada setiap anggotanya, walaupun alat yang digunakan untuk berlatih masih kurang lengkap dan memadai, tidak membuat mereka malas berlatih. Hal ini terbukti dengan para anggotanya yang selalu aktif untuk mengikuti latihan setiap minggu. Mereka dapat saling bergantian untuk memainkan alat music tersebut tanpa mengurangi rasa kebersamaan yang terjalin diantara mereka. Khusus untuk peralatan yang belum dimiliki, mereka bisanya akan menyewa peralatan yang diperlukan dari tempat persewaan alat musik atau meminjam dari kenalan-kenalan mereka yang mempunyai alat musik tersebut, (sebagai contoh, seperti: keyboard, bass dan trio) apabila mereka diminta untuk pentas dalam suatu acara.
Pandangan dari masyarakat di sekitar juga sangat baik, hal ini ditunjukkan dengan selalu mengapresiasi kegiatan ini, dalam bentuk meminta unutk mengisi acara yang diadakan oleh lingkungan dusun Kampung Rapet, sehingga komunitas ini mendapat kesempatan untuk menghibur dengan kreatifitasnya. Sebagian besar dari mereka sering memberikan saran dan masukan tentang komunitas ini demi perkembangannya pada masa yang akan datang. Tidak hanya itu, komunitas Rebana ini juga di undang untuk dapat memeriahkan masyarakat yang mempunyai hajatan, baik itu perayaan kelahiran dan khitanan. Mereka juga sangat senang karena masih ada para remaja yang masih mau untuk melestarikan kesenian bermusik rebana ini walaupun dengan banyaknya aliran-aliran musik yang tumbuh pada masa kini.
Sedangkan pandangan dari saya pribadi, komunitas rebana ini merupakan salah satu bentuk kegiatan yang positif untuk para remaja di Dusun Kampung Rapet dalam menunjukkan kreatifitasnya dalam bermusik. Dengan belajar musik rebana ini, menunjukan bahawa para remaja masih memiliki rasa peduli dengan tradisinya yang sudah ada sejak dulu dan tidak begitu saja terpengaruh dengan budaya baru yang sangat kuat masuk dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Prostitution and Trafficking of Women and Children: The Dynamics of Supply and Demand

Prostitusi dan perdagangan anak, saat ini memang menjadi masalah yang sangat kompleks di tengah perkembangan zaman saat ini. Hal ini salah satunya terjadi karena terdapat keseimbangan antara suplai yang berasal dari para korban dan permintaan yang selalu ada dari para pelaku tersebut. Jadi berbagai usaha yang telah dilakukan terlihat sia-sia, karena pasti akan tumbuh lagi dengan sistem yang baru. Banyak faktor yang menyebabkan proses perekrutan para korban sangat mudah dilakukan, salah satunya faktor kemiskinan yang kemudian menghalalkan  segala cara agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Melihat peluang-peluang tersebut, para pelaku sering mencari korbannya baik wanita maupun anak yang berasal dari keluaraga miskin, tidak memiliki pendidikan yang cukup dan selanjutnya dapat dikontrol dengan mudah.Dengan suplai yang banyak, hal ini menimbulkan permintaan yang tinggi dari para konsumennya yang hanya menginginkan kepuasaan sesaat.
Salah satu contoh dari kegiatan tersebut, yaitu perekrutan perempuan muda dari Bali dan Jawa untuk misi kebudayaan atau tari ke Jepang. Para penari diberitahu bahwa mereka akan membawakan tarian tradisional di sejumlah pusat hiburan di Jepang. Setibanya di sana, mereka dipekerjakan di karaoke dan klub yang menyajikan tarian telanjang. Mula-mula mungkin mereka akan bekerja sebagai pelayan atau teman minum bagi tamu namun pada akhirnya mereka akan disuruh memberikan layanan seks kepada tamu.
Tampaknya ada berbagai jalan masuk ke dalam industri seks di Indonesia dan tidak semuanya merupakan perdagangan. Sebagian perempuan memasukinya secara sadar, karena merasa hanya sedikit pilihan yang tersedia bagi perempuan yang berpendidikan rendah dan hanya memiliki sedikit keterampilan seperti mereka. Banyak di antaranya yang harus menghidupi keluarganya dan tidak dapat menemukan jalan lain yang layak untuk memberi makan keluarganya. Dalam kasus-kasus lain, sejumlah perempuan dan gadis yang meninggalkan kampungnya untuk berangkat ke kota besar guna mencari pekerjaan didekati oleh supir taksi yang menawarkan mereka pekerjaan bergaji besar begitu mereka sampai di tempat tujuan, namun kemudian mereka malah dibawa ke rumah bordil di mana mereka dipaksa atau dibujuk untuk tinggal. Meski sering kali tidak diakui, orang tua dapat memperdagangkan anak mereka dengan cara menyalahgunakan wewenang formal dan informal mereka sebagai orang tua. Di beberapa kabupaten di Indonesia, terutama di Jawa, berlaku subbudaya di mana keluarga yang mempunyai anak perempuan di bawah umur mengatur agar anak mereka dapat menetap di kota untuk memasuki industri seks agar ia memperoleh penghasilan lebih besar dari yang mungkin dapat ia raih. Ini sudah jelas merupakan kasus perdagangan. Sementara di daerah lain, seperti Sulawesi Utara, sejumlah perempuan dan gadis muda secara sadar menandatangani kontrak untuk bekerja sebagai penari, penari telanjang atau bahkan pekerja seks, namun mereka ditipu mengenai kondisi kerja yang harus mereka hadapi, dibebani oleh utang yang sebenarnya tidak ada atau jumlahnya lebih besar dari yang sebenarnya, disekap secara paksa, atau tidak boleh menolak bekerja, sehingga nasib mereka berujung dalam kondisi eksploitatif yang merupakan perdagangan. Juga ada konsistensi yang cukup tinggi dari antara sejumlah laporan yang menyatakan bahwa 30% pekerja seks di Indonesia berusia di bawah 18 tahun. Anak umur di bawah 18 tahun yang direkrut dan dikirim ke dalam industri seks merupakan korban perdagangan, sehingga isu tentang persetujuan atau menjadi pekerja seks secara sukarela menjadi tidak relevan.
Solusi yang dapat dilakukan dalam rangka mengurangi kegiatan prostitusi dan perdagangan anak yaitu menghentikan proses permintaan. Untuk itu ada 4 komponen yang mempengaruhi, antara lain: Orang yang membayar untuk mendapat jasa tersebut, Pelaku yang mencari dan menyalurkan kepada para konsumen, Negara yang menjadi tujuan dari tindak kejahatan ini, dan Kebudayaan yang menyetujui eksploitasi seksual.
Manakala perdagangan manusia dibicarakan, pelaku perdagangan kerap digambarkan sebagai bagian dari organisasi kejahatan lintas batas yang terorganisasi. Meski gambaran ini mungkin saja benar dalam sebagian kasus, banyak pelaku perdagangan yang juga jelas-jelas diketahui bukan bagian dari kelompok kejahatan terorganisasi; sebagian beroperasi secara independen, sementara sebagian lagi merupakan tokoh terhormat dalam komunitas mereka. Setiap sektor di mana perdagangan terjadi juga memiliki kelompok aktornya sendiri di dalamnya. Sebagaimana tidak semua perempuan dan anak yang terlibat dalam sektor-sektor ini adalah korban perdagangan, demikian juga tidak semua aktor adalah pelaku perdagangan. Namun banyak dari mereka yang menjadi pelaku perdagangan dan sebagian mungkin terlibat langsung dalam perdagangan perempuan dan anak dan bahkan tidak menyadarinya.
Untuk memutus hubungan antara pelaku prostitusi dan korban. Kita dapat memulai dari para penyalur dan penyedia jasa tersebut. atau yang sering disebut dengan germo atau mucikari, tapi dengan kelihaian para penyalur tersebut, mereka sulit sekali untuk di tangkap dan sebagian besar orang yang ditangkap hanya para penyalur-penyalur kecil, sedangkan para penyalur besar mereka masih nyaman menjalankan usaha prostitusi ini. Oleh karena itu, perlu kerjasama yang bail antara pemerintah dana aparat terkait untuk membuat suatu sistem yang efektif untuk menagkap para pelaku tersebut dan tentunya disertai dengan mental yang baik untuk melakukan tindakan di lapangan.
Di negara tujuan, buruh migran perempuan Indonesia menghadapi risiko diperdagangkan untuk eksploitasi seksual. Perempuan yang direkrut untuk menjadi pembantu rumah tangga terkadang dipaksa untuk terjun ke dunia prostitusi di negara tujuan. Walaupun pihak perekrut di Indonesia mungkin sudah lama mengetahui penipuan ini, ada juga kasus di mana agen di negara tujuan menentukan buruh mana yang akan menjadi pembantu rumah tangga dan yang akan dikirim ke rumah. Harian Kompas pada bulan Maret 2000 melaporkan bahwa “20 buruh migran perempuan diintimidasi dan disiksa oleh agen mereka karena mereka tidak mau melakukan prostitusi”. Ada juga bukti bahwa buruh migran perempuan diperdagangkan ke tempat-tempat seperti Sarawak dan Johor, Malaysia, untuk bekerja sebagai pekerja seks untuk melayani buruh migran laki-laki Indonesia di perkebunan. Jumlah perempuan yang diperdagangkan menjadi pekerja seks tidak diketahui pasti, tetapi surat kabar sering kali mengangkat kasus-kasus baru. Saat ini Indonesia belum mempunyai undang-undang perlindungan buruh migran. Namun demikian, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sedang membahas sebuah rancangan undangundang perlindungan buruh migran yang disusun dan diadvokasi oleh LSM-LSM yang menangani masalah buruh migran Indonesia. Dan untuk sementara ini, semua kebijakan dan peraturan tentang buruh migran Indonesia masih tetap dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Di Indonesia ada sejumlah praktik tradisional yang dapat dikategorikan sebagai perdagangan, sistem ijon dan praktik-praktik terkait yang mencakup berbagai jenis pekerjaan, seperti pekerja seks, PRT dan buruh kasar. Contohnya, praktik pengambilan gundik di dalam lingkungan budaya Jawa dapat dikatakan sebagai cikal bakal perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan seksual. Istana raja dihuni oleh sejumlah besar perempuan yang disebut selir yang diberikan kepada raja oleh bangsawan sebagai tanda kesetiaan atau sebagai upeti dari kerajaan-kerajaan lain. Gadis-gadis ini juga sering kali dijual atau diberikan oleh keluarga mereka untuk memperoleh posisi rendah di dalam rumah tangga kerajaan. Pola pengambilan gundik serupa terjadi di dalam rumah tangga bangsawan di segenap kawasan tersebut.
Sebelas komunitas di Jawa adalah komunitas sumber yang signifikan untuk selir kerajaan di masa lampau “ Indramayu, Karawang dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Japara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; dan Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Praktik ini juga berkembang di kalangan masyarakat Bali; ketika perempuan berkasta rendah menjadi janda dan tidak dihidupi oleh keluarganya, janda tersebut kemudian berada di bawah kekuasaan raja. Jika sang raja tidak ingin memasukkan janda itu ke dalam rumah tangganya, ia mungkin akan dikirim untuk bekerja sebagai pekerja seks, dengan sebagian gajinya dikirimkan ke raja.

Kamis, 15 Maret 2012

Famous Person in Transgender


Transgender merupakan fenomena perubahan yang terjadi pada sebagian kecil orang yang hidup di zaman sekarang ini. Dalam wikipedia mendeskripsikan transgender sebagai orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. Namun melihat perkembangan yang ada, transgender disamaartikan dengan Transexual, padahal kedua istilah tersebut mempunyai mempunyai perbedaan yang sangat mendasar.
Trangender dapat dipengaruhi oleh berbagai hal baik dari aspek internal maupun eksternal individu tersebut. Ada yang merasa karena Ia terperangkap dalam tubuh yang salah, sehingga merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri dan perilaku dapat berubah tidak seperti orang kebanyakan. Banyak yang menentang adanya fenomena transgender ini, khususnya dari kaum beragama. Karena sebagian besar agama, khususnya yang dianut di Indonesia tidak memperbolehkannya, karena tidak tercantum dalam ajaran agamanya.
Salah satu contoh seorang  transgender dan sangat menyedot perhatian adalah Florencia De La V. Ia lahir di Rumah Sakit "la Madre y el Nino", di kota Resistencia (Provinsi Chaco, Argentina) 1.005 km utara Buenos Aires. Rumah keluarganya terletak di Villa Los Lirios. Pada usia 2 tahun, dia kehilangan ibunya karena mengidap kanker, dan akhirnya pindah ke Lomas de Zamora (Provinsi Buenos Aires) dengan ayah dan kakaknya.
Pada usia 17 tahun Florencia berpakaian sebagai seorang wanita muda untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Sejak saat itu ia dikenal sebagai Karen, sampai suatu hari Ia dipanggil oleh teman-temannya sebagai "Florencia de la Vega"; akhirnya karena alasan hukum namanya disesuaikan dengan Florencia de la V. Dia sangat terkenal karena, telah muncul di opera sabun, di majalah, di klub, dan pernah menjadi editor majalah. Dia saat ini menikah dengan seorang pria dan ibu dari bayi kembar yang dikandung melalui pengganti.

Senin, 27 Februari 2012

Komunitas Rebana di Banyubiru

Pada masa sekarang ini, mungkin banyak dari kita yang merasa asing bahkan belum pernah mendengar kesenian musik ini. Mungkin karena kesenian ini terasa masih asing ditelinga kita. Kesenian musik ini sangat identik dengan agama Islam karena  dulu sering digunakan dalam acara-acara peringatan hari besar Islam. Kesenian musik tersebut adalah Rebana.
Definisi Rebana dalam Wikipedia adalah  gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh. Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang. Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.
Namun, pada masa sekarang kesenian musik Rebana ini semakin tenggelam oleh zaman dan tergerus oleh kesenian-kesenian musik lainnya yang banyak digandrungi oleh para generasi muda pada masa kini. Tidak adanya pembaharuan dalam kesenian musik Rebana ini membuat musiknya terasa monoton dan terkesan membosankan, sehingga membuat enggan para generasi muda untuk mempelajarinya. Ditambah lagi dengan anggapan orang bahwa kesenian ini hanya dapat dimainkan oleh orang dewasa saja yang menyebabkan regenerasinya menjadi semakin tersendat.
Padahal dengan terus melestarikan kesenian Rebana, merupakan salah salah satu upaya kita untuk dapat menjaga warisan kesenian yang telah sejak dulu dijaga oleh para leluhur kita. Hal itu tentunya juga dapat lebih memperkaya wawasan kita dalam bidang kesenian, khususnya seni musik. Agar identitas kita tidak pudar oleh budaya barat yang dapat menghilangkan kebudayaan kita.
Hal itu yang mengggugah hati para pemuda di Dusun Kampung Rapet, Kecamatan Banyubiru untuk mencoba belajar salah satu kesenian musik ini. Berangkat dengan kecintaannya dengan musik dan dalam masa mencari pelampisan untuk bermain musik, sehingga para remaja yang tergabung dalam Remaja Islam Dusun Kampung Rapet sangat antusias dalam mengikuti salah satu kegiatan positif untuk menyalurkan hobi mereka untuk bermain musik.
Dipimpin oleh seorang pemuda bernama Kuthil yang mempunyai nama asli Yuli Cahyadi dan dibantu oleh temannya yaitu Indrayana, yang dipandang sangat mahir dalam bidang musik di lingkungan setempat dan mempunyai sifat humoris sehingga mudah bergaul dengan siapa saja membuat para anggotanya yang kebanyakan siswa SMA ini merasa nyaman ketika mengikuti kegiatan. Alat-alat yang dimiliki juga terhitung cukup lengkap dengan kualitas yang seadanya tidak membuat semangat untuk berkreasi para pemuda ini kemudian padam.
Ide-ide baru yang selalu ditampilkan membuat suasana menjadi lebih hidup ditambah dengan gelak tawa para pemuda yang tergabung dalam komunitas ini. Seakan-akan mereka dapat melepas sebentar rutinitas mereka sebagai pelajar dan saling bercengkrama di setiap akhir pecan. Banyak kreasi yang telah mereka buat dengan menggabungkan musik rebana dengan musik dangdut dan pop, oleh karena itu kesan kuno yang melekat pada kesenian ini kian tersamarkan.  Masyarakat di sekitar juga sangat mengapresiasi dengan kegiatan ini, sehingga setiap ada acar yang diadakan oleh lingkungan tersebut, maka komunitas ini mendapat kesempatan untuk menghibur dengan kreatifitasnya.
Demikian sedikit pengalaman yang dapat Saya bagikan kepada kalian semua tentang mengenal komunitas baru. Banyak pembelajaran yang dapat Saya ambil setelah bergabung dalam komunitas ini, antara lain banyak kegiatan positif yang dapat kita ikuti dan itu semua tergantung dengan pribadi kita untuk dapat konsisten dalam menjalaninya.